Sabtu, 01 Desember 2012

SIMBOL FREEMASON & ILLUMINATI DALAM TV

 
The New World Order (Tatanan Dunia Baru) itulah istilah yang barangkali sering terngiang di telinga kebanyakan penganut paham atau teori konspirasi (sebab bagi sebagian orang juga tak sedikit pun percaya akan hal ini). Sebuah istilah yang dirancang dalam menciptakan satu dunia yang hanya diisi oleh mereka sebagai TUAN dan manusia selain mereka sebagai BUDAK. Tidak ada kelas menengah. Di era ini semua manusia hanya punya satu agama, yakni Pluralisme. Islam dan Kristen, juga Katolik, akan hancur, demikian pula dengan yang lainnya.


Dalam tatanan dunia yang baru ini, Sekularisme menjadi panglima dan kelompok konspiran globalis akan menjadikan Amerika Serikat sebagai kendaraan utamanya. Sebab itu, di dalam lambang negara AS terdapat simbol piramida illuminati, sebuah piramida terpenggal di atasnya dengan simbol sebuah mata di puncaknya.
Sebab itu, mereka menguasai hampir seluruh industri opini, indusri tren, industri budaya pop, industri pendidikan, dan industri pemberitaan dunia. Semua media massa besar di dunia ini tidak lepas dari hegemoni mereka. Mereka menciptakan berbagai trend dunia secara berkesinambungan yang sesungguhnya dinilai dari rasionalitas dan akal sehat sama sekali tidak masuk akal dan tidak ada gunanya. Beberapa di antaranya adalah kontes Miss Universe misalkan, atau pemecahan rekor ini dan itu, apakah itu yang bernama World Guinnes Record atau pun MURI. Semua ini tidak ada gunanya sama sekali bagi peningkatan kualitas hidup dan kualitas kemanusiaan itu sendiri dan seharusnya umat Islam menjauhi hal-hal seperti itu.
 
Lalu kita semua bisa melihat sekarang ini, setiap hari setiap pagi, lewat layar kaca seluruh orang di Indonesia disuguhi pertunjukkan musik Live Show yang biasanya diadakan dipelataran parkir mall atau pun yang sejenisnya. Pertunjukkan ini melibatkan ratusan bahkan ribuan penonton yang mayoritas generasi muda Indonesia, yang berbondong-bondong ingin menyaksikan artis-artis muda Indonesia bernyanyi. Kian hari pertunjukan sejenis kian menggila dan banyak menyedot penonton.

Generasi muda seperti inilah, yang menyukai hura-hura, bebal, dan tidak kritis yang diinginkan para konspiran globalis. Saya menyebut generasi seperti ini sebagai “The Junk Generation” atau Generasi Sampah. Sama seperti berbagai sinetron di teve dan berbagai acara konyol yang sama sekali tidak mendidik dan (maaf) menjijikan. Termasuk acara menguji hapalan lirik lagu yang juga tidak bermanfaat sedikit pun.

 

Media layar kaca atau Teve memang media yang sangat efektif untuk menghacurkan kekritisan generasi muda dan membuat mereka menjadi generasi bebal yang ironisnya menyukai kebebalan itu sendiri. Kita bisa melihat, jika ada pentas musik, maka jumlah penonton pasti melebihi ratusan bahkan ribuan. Namun jika ada diskusi buku atau yang semacamnya, jumlah peserta paling banyak ratusan, tidak pernah ribuan. Dalam menciptakan generasi sampah ini, para konspirator global sepertinya sangat berhasil di Indonesia. Sebab itulah, saya pribadi menyarankan agar jika tidak ada acara yang bermanfaat di teve, sebaiknya dimatikan saja pesawat teve itu. Selain lebih hemat listrik, toh kita tidak terhanyut dengan segala acara konyol dan tidak berguna seperti itu.

 
Selain itu, berbagai pertunjukkan musik sekarang ini juga banyak menampilkan simbol-simbol masonik dalam tata hias panggungnya. Saya sebutkan satu saja, dalam acara Musik beberapa waktu lalu yang diadakan salah satu stasiun teve swasta baru-baru ini yang menampilkan penyanyi Yana Yulio dan Rezza Artamevira, seluruh dekorasi panggung di dalam studio menggunakan simbol Bintang David. Simbol Zionis ini bertebaran di mana-mana. Dan ironisnya, sejumlah orang yang ikut duduk menyaksikan acara tersebut yang mengenakan jilbab namun tidak melakukan tindakan apa-apa, pun sampai sekarang tidak ada satu pun tokoh Islam yang menggugat acara tersebut. Ini beda dengan peristiwa saat kelompok musik Dewa-19 menginjak-injak kaligrafi bertuliskan Allah di salah satu studio teve swasta yang kemudian berbuntut panjang karena adanya seorang tokoh Islam yang menggugatnya. Saya menjadi bertanya-tanya, apakah kebebalan itu juga sudah merasuki para aktivis?

 
Kontra-prestasi atau imbalan terhadap para artis juga sangat mewah dibanding imbalan atau kontra-prestasi terhadap para pendidik bahkan yang setingkat profesor sekali pun. Coba sesekali melihat satu acara diskusi di mana panitia mengundang seorang artis dan juga seorang profesor. Saya pernah melihat satu proposal yang disusun panitia diskusi bedah buku di sebuah universitas ternama di Jakarta yang mengundang seorang artis dan seorang profesor. Untuk si artis, panitia menganggarkan dana dalam amplop sebesar lima juta rupiah, sedangkan untuk sang profesor hanya sepersepuluhnya, yakni ‘cuma’ limaratus ribu rupiah. Ini adalah fakta jika kebanyakan dari kita memang lebih menghargai artis ketimbang seorang pendidik yang sudah susah payah meraih gelar intelektualitasnya.

Jika ditanyakan apakah berbahaya jika kita terus-menerus mengkonsumsi tontonan musik, film, dan sebagainya yang sarat dengan simbol-simbol Masonik, maka jawabnya adalah iya. Untuk musik dan acara-acara tidak bermanfaat, sedapat mungkin tinggalkanlah. Apalagi yang ditayangkan teve atau melihatnya langsung. Namun untuk film, hal ini tergantung pada keperluan dan tetap harus disesuaikan dengan batas-batas yang telah ditetapkan syari’at Islam yang mulia ini.

Hanya saja, yang harus kita sadari, semua film, musik, dan acara hiburan sekarang ini memang dibuat untuk melenakan kita semua. Dan salah satu cara yang paling jitu dan paling mudah sekarang ini adalah dengan melakukan Diet menonton teve.






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar