Senin, 19 November 2012

NETANYAHU SAKIT JIWA, PSIKIATERNYA BUNUH DIRI



Netanyahu, Pasien Yang Kalahkan Dokter Pribadinya
Psikiater Israel melakukan aksi bunuh diri dan meninggalkan sebuah catatan yang menyatakan bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sebagai penyebab kematiannya.


Sebagaimana dilaporkan Fars mengutip situs kantor berita Al Jazeera yang ditulis oleh Michael K. Smith disebutkan, "Moshe Yatom, seorang psikiater terkemuka Israel yang berhasil menyembuhkan berbagai jenis penyakit mental sepanjang karirnya, ditemukan tewas di rumahnya di Tel Aviv pada tanggal 13 Juni 2010, dan sepertinya ia tewas setelah menembakkan peluru ke arahnya sendiri. Sebuah catatan bunuh diri di sisinya menjelaskan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang telah menjadi pasiennya selama sembilan tahun lalu, "telah mengakhiri hidupku."

Dalam catatannya itu, Yatom menulis, ""Saya tidak tahan lagi. Perampokan adalah keselamatan, Apartheid adalah kebebasan, aktivis perdamaian adalah teroris, pembunuh adalah pembela diri, pembajakan adalah legalitas, bangsa Palestina adalah warga Yordania, aneksasi adalah pembebasan, tak ada akhir atas kontradiksi-kontradiksi ini. Freud berjanji bahwa rasionalitas akan memerintah dalam nafsu insting, tapi ia belum pernah bertemu Benjamin Netanyahu. Orang ini (Netanyahu) akan mengatakan bahwa Gandhi telah menemukan senjata roti kalung."


Berdasarkan laporan ini, para psikiater dengan tendensi manusia, memproses kebenaran untuk menghindari konfrontasi emosional dengan masalah-masalah yang rumit, namun Yatom sepertinya tertegun dengan apa yang disebutnya "Air terjun kebohongan." Air terjun ini memancar dari pasien Yatom yang paling terkemuka (Netanyahu).

Buku harian Yatom merinci disintegrasi kepribadian psikiater Israel ini selama berkali-kali yang sebelumnya tidak pernah goyah dan akhirnya kehilangan stabilitas di bawah arus justifikasi rasionalisasi Netanyahu.

"Aku benar-benar terkejut," kata Yossi Bechor, tetangga Yatom. "Moshe adalah seorang yang punya kepribadian sempurna, dan sebelum ia memulai mengobati Netanyahu, Moshe telah menyembuhkan beberapa pasien penderita skizofrenia. Ia sama sekali tidak menyinggung bahwa Netanyahu berbeda dengan pasien-pasien lain."

Laporan ini menambahkan, Namun sepertinya kasus itu berbeda dengan kasus pasien-pasien lain. Yatom semakin tertekan karena tidak berhasil mendorong Netanyahu untuk memahami realita. Dan akhirnya ia mengalami beberapa kali pingsan saat ia berusaha untuk memahami pikiran-pikiran Netanyahu, yang disebutnya dalam satu catatan harian sebagai "Lubang hitam kontradiksi."

Pingsan pertama Yatom terjadi ketika Netanyahu menyatakan bahwa serangan 11 September ke Washington dan New York adalah baik. Pingsan kedua terjadi dalam sebuah pertemuan ketika Netanyahu bersikeras bahwa Iran dan Nazi Jerman adalah identik. Dan yang ketiga terjadi setelah Perdana Menteri Israel ini menyebut program nuklir Iran sebagai sebuah "kamar gas yang terbang," dan menyatakan bahwa semua orang Yahudi di seluruh dunia tinggal secara permanen di kamar gas di Auschwitz.

Upaya Yatom untuk menenangkan gangguan jiwa Netanyahu itu sangat melelahkan secara emosional dan upaya ini berakhir dengan kegagalan.

"Alasan Netanyahu selalu sama," keluh Yatom dalam catatan lainnya. Netanyahu berkata, "Orang-orang Yahudi berada di ambang kehancuran di tangan orang-orang non-Yahudi (Goyim) yang rasis dan satu-satunya cara atas masalah ini adalah melaksanakan sebuah pembantaian terakhir."

Menurut laporan ini, Yatom rupanya tengah berusaha menjadikan catatan-catatan hariannya tentang Netayahu sebagai sebuah buku. Beberapa bab dari sebuah naskah yang belum selesai ini diberi judul "Psikotik pada Steroid," dan ditemukan di ruang kerjanya.

Kutipan-kutipan di bawah ini berhubungan dengan pandangan dan pikiran Netanyahu.

Senin, 8 Maret

"Netanyahu datang untuk menghadiri pertemuan sesi siang pukul: 15:00. Pada pukul 16:00, Natanyahu menolak untuk meninggalkan rumah saya dan mengaku bahwah rumah saya adalah miliknya. Lalu dia mengurung saya di ruang bawah tanah sepanjang malam, kemudian ia berpesta bersama rekan-rekannya di lantai atas. Ketika saya mencoba melarikan diri, dia menyebut saya seorang teroris dan memborgol saya. Aku meminta maaf kepadanya, tapi dia mengatakan bahwa dirinya sama sekali tidak bisa memberikan maaf kepada seseorang yang bahkan tidak ada wujudnya."

Michael K. Smith adalah penulis buku "Portraits of Empire" dan " The Madness of King George," dari penerbit Common Courage. (IRIB/Fars/RM/MF)

 

forum.detik.com

1 komentar: