Selasa, 29 November 2011

BENJAMIN KETANG IS "YAHUDI VAN JEMBER"

Kisah nyata orang yang kelewat kagum dengan Yahudi. Hanya dengan beasiswa, agama pun digadai.
Rumah bercat biru muda itu luasnya kira-kira 7 x 10 meter. Lantai dan sebagian dindingnya berkeramik. Sedianya, di Jalan Imam Bonjol No. 8, Desa Tamansari, Wuluhan, Jember, Jawa Timur itu adalah kantor dari Indonesia-Israel Public Affairs Committee (IIPAC). Demikianlah yang tertera pada surat keterangan domisili dari Kepala Desa Tamansari yang ditampilkan di situs IIPAC, www.iipac.wordpress.com.


Perjalanan dari Terminal Tawang Alun, Jember, ke lokasi memakan waktu satu jam. Setibanya di sana, tidak terlihat adanya papan nama ataupun atribut IIPAC. Nurhidayati, sang penghuni rumah mengatakan, dirinya tidak mengetahui ihwal keberadaan kantor IIPAC yang mencatut alamat rumahnya itu.

Ketika ditanya soal Benjamin Ketang, direktur eksekutif IIPAC, Nurhidayati mengenalnya. “Ketang adik saya. Tapi saya jarang tanya banyak kepadanya. Dia sudah dewasa dan bisa memilih jalannya sendiri. Jika ketemu, paling sekadar tanya kabar,” katanya kepada Suara Hidayatullah yang bertandang ke rumahnya November lalu.

Menurut Nurhidayati, Ketang memiliki jaringan yang luas, mulai dari ulama, politisi hingga pejabat. Karena itu, tak heran jika Benjamin Ketang jarang di rumah. “Dia sering pergi ke Jakarta, Surabaya dan Bali. Jika pergi, kadang bisa sepuluh hari,” ucapnya.
Soal kepergian Ketang ke Israel juga diketahui Nurhidayati. “Ketika itu Ketang kuliah di Israel. Ya, kami izinkan saja,” katanya.

Sebelum ke Israel, pria kelahiran Jember, 22 September 1972 ini dikenal dengan nama Nur Hamid Ketang. Ketang yang pernah aktif di Persatuan Mahasiwa Islam Indonesia (PMII) ini pernah membuat sensasi dengan rencananya mengundang Shimon Peres, Menteri Luar Negeri Zionis kala itu, untuk menjadi narasumber sebuah seminar di Jakarta pada April 2002 lalu.

Ketika itu Ketang aktif sebagai pengurus Barisan Muda Nahdlatul Ulama (BMNU), sekaligus sebagai ketua panitia seminar bertajuk “Grand Design NU, Antara Kultural dan Kepentingan Global, yang mengundang Peres tersebut.
Singkatnya, Peres batal ke Jakarta karena kecaman dan protes dari elemen-elemen umat Islam, termasuk NU. BMNU, sebagai penggagas seminar bahkan didepak dari kantor PBNU karena dianggap telah membuat keresahan dengan mencatut nama besar NU.

Pintu masuk Ketang ke Israel ketika saat Abdurrahman Wahid atau Gusdur jadi presiden. Ketika itu, Ketang ditunjuk sebagai tim negosiasi kerjasama Indonesia-Israel. Setelah itu, ia dapat beasiswa dan sepucuk surat dari Gusdur. Ketang lantas ketemu Shimon Peres di Israel dan menyampaikan keinginannya belajar di sana.

Di Israel, Ketang kuliah di Hebrew University of Jerusalem mengambil jurusan Jewish Civilization selama dua tahun (2004-2006). Selama kuliah, ia mendalami bahasa Ibrani. Ia juga termasuk mahasiswa cerdas. IPK-nya 3.48 dengan predikat Very Satisfactory dan resmi menyandang gelar master of arts (MA).
Pengalaman kuliah di Israel ternyata membawa perubahan baginya. “Saya yakin, ini adalah perjalan hidup yang tidak pernah terlupakan,” katanya kepada Suara Hidayatullah. Ketang pun kemudian mengganti agamanya menjadi Yahudi dan merubah namanya menjadi Benjamin Ketang.
Bahkan Ketang mengaku sebagai generasi Yahudi kelima di Indonesia. “Dari face (wajah) Israel ada. Pokoknya saya benar. Ternyata paklek dan mbah-mbah saya Yahudi banget,” terangnya.

Menurut Ketang, IIPAC didirikan 21 Januari 2002 setelah kunjungannya ke Israel pada 2001. Melalui IIPAC, Ketang dan kawan-kawan mendirikan Indonesia Business Lobby. Ketang mengaku IIPAC telah direstui dan direkomendasi oleh American Israel Public Affairs Committee (AIPAC) dan Australia/Israel & Jewish Affairs Councils (AIJAC).

Namun, sejauh ini Suara Hidayatullah belum menemukan pengakuan langsung dari AIPAC ataupun AIJAC tentang IIPAC selain pernyataan sepihak dari Ketang sendiri.
Seperti layaknya AIPAC yang menjadi penentu kebijakan politik Amerika, IIPAC juga berambisi bisa bertindak demikian di Indonesia. Ketang mengaku, IIPAC telah turut andil dalam pemilihan umum, pemilihan kepala daerah, hingga pemilihan presiden di Indonesia sejak tahun 2004.

Ketang mengaku IIPAC telah bertindak sebagai pemberi rekomendasi calon-calon kepala daerah kepada perusahaan dan organisasi pro-Yahudi internasional. “Para calon kepala daerah akan mendapatkan dukungan dana dari perusahaan organisasi internasional jika komitmen mendukung realisasi hubungan diplomatik dengan Israel,” kata Ketang.
Penulis buku-buku konspirasi Zionisme, Rizki Ridyasmara, yang juga mantan wartawan mengaku pernah mewawancarai Ketang saat kontroversi rencana kedatangan Shimon Perez ke Jakarta. Katanya, diakhir wawancara sempat menawarkan beasiswa penuh untuk kuliah di Israel.
Rizki menilai, orang seperti Ketang tidak layak untuk diperhatikan. “Orang seperti itu sama sekali tidak berbahaya, manuvernya norak. Ibarat pepatah, air beriak tanda tak dalam, air tenang banyak ikannya,” pungkas Rizki. * SUARA HIDAYATULLAH, DESEMBER 2010

Benjamin Ketang, Direktur Utama Indonesia-Israel Public Affair Committee (IIPAC)
“Hubungan Diplomatik Dengan Israel, Buat Indonesia Lebih Perkasa”


Apa alasan Anda mendirikan IIPAC ?
Berdirinya IIPAC ini adalah rentetan sejarah. Berkumpulnya orang-orang yang selama ini memperjuangkan kerjasama Indonesia-Israel. Ada teman-teman yang dari Manado, Bandung, dan itu mereka punya kedekatan dengan orang-orang Yahudi.

Sejauhmana kedekatan pendiri yang lain dengan Israel?
Ada yang kuliah di sana, ada yang kursus, ada yang memang keturunan dari Yahudi. Ada yang pengusaha, jarang yang dari ormas. Sembilan puluh persen pengusaha. Makanya kita bentuk Indonesia bisnis lobi itu dengan harapan, apa yang kita pikirkan dan kerjakan untuk kepentingan bangsa lebih luas.

Apa posisi Anda dan bagaimana perkembangan IIPAC sekarang?
Saya direktur eksekutif. Kita sudah jadi anggota World Jewish Congress (WJC) di Eropa dan kita sudah jadi teman kerja AIJAC yang ada di Australia. Kita sudah berkomunikasi untuk ketemu Barrack Obama, karena Barrack Obama adalah keturunan Yahudi yang ada di Amerika.

Seberapa banyak investor Israel di Indonesia?
Investror yang berskala besar sudah ada. Kalau ada bisnis Freeport, Newmont dan sebagainya mereka hanya pemegang saham. Tapi memakai lembaga keuangan internasional, dari Amerika Latin, Hongkong dan Dubai. Jadi, tidak bisa langsung, harus dari negera ketiga. Lewat beberapa pengusaha, tapi komando tetap di Tel Aviv dan Jerusalem.

Di sektor apa saja investasi mereka?
Banyak. Seperti lembaga-lembaga yang sudah eksis. Di Kupang ada Merhav Group. Itu bergerak di biofuels (bahan bakar nabati). Investor yang ada di telekomunikasi di Bakrie Group. Bakrie Group dapat sekitar 400 miliar dolar.
Tapi disayangkan kenapa mereka malu-malu kucing. Kalau mereka dapat investasi dari Israel, bilang saja mereka dapat dari Israel. Jangan disembuyi-sembunyikan. Selain itu, juga Telkom dapat dari Amdocs. Coca-Cola dan sebagainya.

Kenapa Anda bersikukuh ingin membuka hubungan Indonesia-Israel, sedangkan tak ada hubungan diplomatik?
Penjajahan itu adalah salah satu isi pembukaan Undang Undang Dasar. UU diciptakan manusia. Tapi Torah itu, siapa yang berbicara dengan Nabi Ya’qub, siapa yang berbicara dengan Nabi Ibrahim, dengan Nabi Musa.
Saya lebih percaya dengan Torah daripada UUD. Penjajahan itu definisinya sangat kompleks sekali. Indonesia saja dibilang penjajah oleh orang Maluku Selatan, orang Papua, dan orang Aceh.

Anda tidak takut jika umat Islam marah?
Saya kira, jika mereka tahu the tree of life (pohon kehidupan), mereka akan memahami orang Israel. Tree of life, bahwa bangsa Arab itu masih satu keturunan, dari satu pohon yaitu Ibrahim. Siapa yang mengajarkan tentang keesaan Tuhan, Nabi Musa, kan? Nabi Musa berdiri di Sinai kepada Israel.

Apa pentingnya Indonesia memiliki hubungan dengan Israel?
Karena finansial siapa yang pegang? Database internasional siapa yang pegang? Perbankkan siapa yang pegang?
Seandainya Indonesia punya kedutaan besar Israel, saya kira Indonesia bisa lebih berperan dari sekarang. Kenapa dari Mavi Marmara tidak diakui, itu karena tidak ada kedutaan. Kalau Indonesia punya kedutaan, mereka welcome. Saya sebagai bagian dari teman orang Yahudi dan Israel, saya kira lebih terhormat, lebih perkasa dan lebih punya kekuasaan kalau punya kedutaan. ** SUARA HDIAYATULLAH, DESEMBER 2010

13 komentar:

  1. Orang bodoh yang menjadi budak yahudi, si ketang ini dianggap Goyyim ( Bukan manusia ) oleh Yahudi. dari tampangnya dan gaya bicaranya terlihat kampungan dan norak.ntar kalo yahudi dah gak butuh, si ketang ini bisa dilenyapkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau saya membalas dengan kebencian ini...saya berarti.....

      Hapus
    2. kaet ngerti ono Ibrani ndoweh koyok koen cak....

      Hapus
  2. "Karena finansial siapa yang pegang? Database internasional siapa yang pegang? Perbankkan siapa yang pegang?
    Seandainya Indonesia punya kedutaan besar Israel, saya kira Indonesia bisa lebih berperan dari sekarang. Kenapa dari Mavi Marmara tidak diakui, itu karena tidak ada kedutaan"

    Buat apa kebutuhan Finansial yang nanganin zionis ??
    Masih banyak kok negara lain

    BalasHapus
  3. Islam harus ber satu .. Sekarang kita khususnya umat islam sudah tidak banyak lagi peduli tentang saudara saudara kita yang di luar sana .. harus ada yang memulai

    BalasHapus
  4. Orang Yahudi Mulutnya Memble Gitu Ya....??? Pantesnya Orang Zimbabwe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. huwancir ... ngenyek aq .. aq yo domble brow .. huwahahahahhahaha .. tapi aq ra Zionis lhoo .. ora Yahudi sisan.. Asli Jowo cuuuii ... kkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk .... asem ente ...

      Hapus
  5. ilmu satanist kok dipake..... ente kagak tau arti tentang Ke-Esa'an TUHAN yaaa ???

    BalasHapus
  6. padahal KETANG dl bahasa madur ayg populer di Jember itu artinya MONYET

    BalasHapus
  7. padahal KETANG itu di daerah saya nama makanan karena banyak orang yang suka dengan makanan ini " KETANG GORENG "


    BalasHapus
  8. Kita doa kan semoga ketang insyaf.. amin..

    BalasHapus
  9. ORANG YANG MURTAD DARI ISLAM AKAN MENDAPAT AZAB ALLAH YANG SANGAT PEDIH NAUZUBILLAHIMINZALIK

    BalasHapus